About KJ!
About Kampoeng Jazz
Sejarah dunia mencatat di awal abad 19 lahir suatu generasi musik yang memperlihatkan keharmonisan reaksi antara tradisi musikal Afrika Barat dengan Eropa dan daerah pedesaan di selatan Amerika yang memberikan tempat untuk lahirnya suatu senyawa baru tersebut. Selanjutnya dunia mengenal senyawa tersebut sebagai musik jazz.
Harmonisasi antara drum, saxophone, trombon, tuba, dan petikan gitar yang tidak konvensional membuat posisi tawar senyawa baru dalam musik ini terasa begitu kuat. Kekuatannya terdapat dalam nada-nada persuasif yang merelaksasi pendengaran.
Penetrasi jazz ke dalam dunia musik Indonesia terhitung awal tahun 30’an dan dalam rentang 2 dasawarsa, musik anak negeri memperkenalkan nama-nama seperti Didi Chia, Paul Hutabarat,Herman Tobing, Hanny Joseph, Sutrisno, Thys Lopis , dan serta Bob Tutupoly yang mengusung aliran ini. Hal ini memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh jazz sehingga menghasilkan musisi berkualitas dan ‘tahan lama’ .
Hampir delapan dasawarsa sejak masuknya hegemoni musik jazz ke Indonesia, pertunjukan yang mengusung aliran yang sering menyisipkan field hollers ( teriakan peladang ) ini sering kali diadakan. Acaranya seringkali begitu klise karena hanya menampilkan euphoria alunan musik saja. Namun, di pertengahan tahun 2010 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran akan berusaha menyuguhkan pagelaran yang bertajuk Kampoeng Jazz 2010 “Proud of Indonesian Jazz, for nation, for nature, for culture” Acara tahunan yang diselenggarakan lagi tahun ini adalah sebuah hibridisasi antara sajian ramah musik jazz dan local genius yang kita punya.
Perkawinan keduanya tidak terlepas dari masuknya budaya luar yang mengusung urbanisme yang tinggi yang tidak bisa kita elak keadaannya. Dimana masyarakat seolah lebih memilih sesuatu yang lebih modern yang lebih mencerminkan era serba cepat ini, sehingga apa yang berbau tradisional begitu mudah ditinggalkan dan menjadikan khasanah nomor 2. Sehingga terbentuk paradigma baru bahwa Indonesia ingin ‘mengindustrialisasikan’ segala aspek kehidupan termasuk seni tradisional dan meninggalkan kebhinekaanya.
Bermaksud untuk mereduksi paradigma tersebut, bahwa kami adalah anak negeri yang masih peduli dengan budaya lokalnya masih menghargai setiap detak kebudayaan yang lahir dari tanahnya.
Kami memilih jazz karena penetrasi musik ini begitu ramah dan diterima oleh semua lapisan dari sini kami berharap apresiasi yang sama diberikan oleh masyarakat Indonesia terhadap budaya tradisional bangsanya.
Apalah sebuah arti tradisi yang tidak melahirkan esensi? Kami tidak mau membiarkan medula acara ini hanya berisikan pertunjukan satu malam dan berhenti di garis klise yang biasa disuguhkan acara-acara jazz konvensional. Dari acara ini kami berusaha memunculkan kontinuitas agar budaya lokal tidak hip dalam satu malam saja, Kampoeng Jazz 2010 “Proud of Indonesian Jazz, for nation, for nature, for culture” berusaha memfasilitasi masyarakat industri khususnya industri lokal untuk memasarkan karya dalam acara tersebut. Karena kami percaya tanpa partisipasi dari masyarakat khususnya kami sebagai mahasiswa, industri lokal tersebut hanya akan berhenti dalam pasaran lokal saja. Dari sini kami berharap acara kami akan menjadi efek domino bagi kegiatan kemahasiswaan lainnya sehingga ‘menjaga warisan budaya bangsa’ tidak hanya menjadi sekedar tajuk atau wacana melainkan suatu realitas.
Siapa yang berucap bahwa seni tradisional dan modern tidak mungkin melahirkan sesuatu yang superior ? Kampoeng Jazz 2010 “Proud of Indonesian Jazz, for nation, for nature, for culture” adalah resolusi dari ketidakmungkinan tersebut. Dukunglah usaha kami, apakah anda akan tinggal diam ?